Muslim Friendly Japan

Berkunjung ke Kuil di Jepang sebagai Muslim: Panduan

Terakhir diperiksa: 5 Nov 2026

Berkunjung ke kuil di Jepang sebagai Muslim itu mudah dan sangat umum dilakukan. Anda bisa berjalan-jalan di area kuil, mengagumi bangunannya, dan mempelajari sejarahnya sebagai pengamat. Tidak ada yang mengharapkan Anda membungkuk, berdoa, memberi persembahan, membeli jimat, atau membasuh diri di tempat penyucian. Panduan ini menjelaskan apa yang Anda lihat di sana, aturan sederhana yang penting (sepatu, foto, pakaian), dan cara mengatur waktu salat di sekitar situs bersejarah paling terkenal.

Jinja dan kuil Buddha: apa bedanya?

Jepang punya dua agama tradisional utama, dan sebagian besar situs bersejarah termasuk salah satunya. Banyak orang Jepang mengunjungi keduanya tanpa merasa bertentangan, jadi keduanya sering berdiri berdampingan.

Jinja (kuil Shinto)

Jinja adalah tempat *kami*, yaitu dewa atau roh dalam kepercayaan Shinto, dipuja. Jinja mudah dikenali dari gerbang torii, yang menandai batas antara ruang sehari-hari dan area jinja. Nama jinja biasanya berakhiran *-jinja*, *-jingu*, *-gu*, atau *-taisha*, misalnya Meiji Jingu di Tokyo atau Kasuga Taisha di Nara.

Kuil Buddha (tera)

Kuil Buddha berisi patung Buddha dan tokoh-tokoh Buddha lainnya. Kuil biasanya punya gerbang besar bernama sanmon, kadang dijaga dua patung kayu berwajah garang. Namanya sering berakhiran *-ji*, *-dera*, atau *-in*, seperti Todai-ji, Kiyomizu-dera, atau Kotoku-in.

Dalam bahasa Indonesia, keduanya sering disebut "kuil". Di panduan ini, kami memakai kata "jinja" untuk kuil Shinto dan "kuil" atau "kuil Buddha" untuk tera.

Kastel dan desa bersejarah

Kastel dan desa tua sama sekali bukan tempat ibadah. Tempat-tempat ini adalah situs sejarah, sering dikelola sebagai museum. Yang perlu diperhatikan hanyalah soal sepatu, tangga yang curam, dan jarak berjalan kaki. Pilihan yang pas kalau Anda ingin seharian menikmati budaya tanpa suasana ibadah di sekitar Anda.

Berkunjung sebagai pengamat: apa saja yang boleh dilewati

Pertanyaan yang paling sering muncul dari wisatawan Muslim adalah apakah harus ikut serta. Jawabannya: tidak. Jinja dan kuil menerima pengunjung dari semua agama. Meiji Jingu, misalnya, menyatakan bahwa pengunjung dari agama apa pun boleh masuk ke areanya.

Banyak Muslim memilih berkunjung sebagai pengamat yang sopan dan tidak ikut dalam ritual ibadah. Berikut hal-hal yang akan Anda temui, dan yang bisa Anda lewati dengan tenang.

  • Tempat penyucian (temizuya atau chozuya). Di dekat pintu masuk ada bak batu dengan gayung. Umat Shinto atau Buddha membasuh tangan dan mulut di sini sebelum berdoa. Ini ritual agama mereka, jadi Anda boleh melewatinya saja. Bak ini juga bukan tempat untuk berwudu; berwudulah di ruang salat atau di hotel.
  • Berdoa di aula utama. Di jinja, umat melempar koin ke kotak persembahan, membunyikan lonceng, membungkuk dua kali, bertepuk tangan dua kali, berdoa, lalu membungkuk sekali lagi. Di kuil Buddha mereka berdoa dalam hati tanpa bertepuk tangan. Anda tidak perlu melakukan semua itu. Berdiri sedikit di samping sambil melihat sudah sangat cukup.
  • Dupa. Di banyak kuil, orang membeli dupa, menaruhnya di tungku besar, lalu mengipaskan asapnya ke tubuh, kebiasaan yang dipercaya membawa kesehatan. Anda cukup melihat tanpa ikut.
  • Membungkuk. Sebagian pengunjung membungkuk di gerbang. Membungkuk juga salam sehari-hari di Jepang, tetapi tidak pernah diwajibkan bagi pengunjung jinja atau kuil. Berjalan dengan tenang dan tidak berisik sudah merupakan bentuk hormat.
  • Jimat dan ramalan. Jinja dan kuil menjual *omamori* (jimat kecil) dan *omikuji* (kertas ramalan). Ini barang keagamaan, dan banyak Muslim memilih tidak membelinya. Kalau ingin oleh-oleh, kerajinan lokal, kue khas, atau buku tentang tempat itu bisa jadi pilihan.
  • Buku stempel (goshuin). Stempel kaligrafi yang dikoleksi banyak pengunjung diberikan di kantor kuil sebagai tanda ibadah. Ini juga boleh dilewati.

Cara mudah memahaminya: Anda sedang mengunjungi tempat yang suci bagi orang lain, sama seperti turis non-Muslim yang berkunjung ke masjid bersejarah. Rasa hormat ditunjukkan lewat sikap tenang dan hati-hati, bukan dengan ikut beribadah.

Etika dasar: sepatu, foto, pakaian, dan sikap

Beberapa kebiasaan sederhana ini akan membuat Anda menjadi tamu yang disukai di kuil, jinja, atau kastel mana pun.

Sepatu

Banyak aula kuil dan hampir semua menara kastel meminta Anda melepas sepatu. Biasanya ada rak sepatu, loker, atau kantong plastik di pintu masuk. Di Sanjusangen-do, Kyoto, sepatu dilepas sebelum masuk aula utama. Di Kastel Himeji, sepatu luar sama sekali tidak boleh dipakai di dalam bangunan.

  • Pakailah kaus kaki yang bersih dan tidak bolong; lantainya sering berupa papan kayu yang dingin.
  • Sepatu yang mudah dilepas-pasang menghemat waktu, apalagi kalau nanti Anda juga perlu berwudu.
  • Perhatikan sepatu Anda. Kastel Nijo mengingatkan pengunjung agar tidak salah ambil sepatu.

Foto

Di sebagian besar area luar ruangan, Anda boleh memotret. Namun aturannya berbeda di tiap tempat, jadi perhatikan papan petunjuk.

  • Jangan memotret orang yang sedang berdoa, upacara, atau tepat di depan kotak persembahan.
  • Meiji Jingu tidak mengizinkan foto atau video di depan aula utama, tempat orang berdoa.
  • Kastel Nijo melarang semua foto dan video di dalam Istana Ninomaru-goten.
  • Di Todai-ji, foto pribadi boleh di dalam Aula Buddha Besar, tetapi tripod, lampu kilat, dan foto rombongan tidak boleh.
  • Drone dilarang di banyak tempat, termasuk Kiyomizu-dera dan Kastel Nijo.

Pakaian

Tidak ada aturan berpakaian resmi, tetapi pakaian sopan sangat dihargai di tempat suci. Panduan wisata resmi Prefektur Aichi menyebut bahwa pakaian terbuka atau celana pendek bisa membuat sebagian orang tidak nyaman. Ini sejalan dengan busana Muslim: lengan panjang, rok atau celana panjang, dan jilbab adalah hal yang sangat biasa. Anda tidak akan pernah diminta melepas jilbab atau penutup kepala keagamaan lainnya.

Sikap

  • Berjalanlah di sisi jalan utama. Bagian tengah jalan menuju jinja secara tradisi diperuntukkan bagi para dewa, jadi banyak orang Jepang berjalan sedikit ke kiri atau ke kanan.
  • Langkahi ambang pintu, jangan menginjaknya, saat masuk ke bangunan kuil.
  • Jangan menyentuh tiang, dinding, atau patung.
  • Bicaralah pelan, terutama di dalam aula.
  • Makan hanya di tempat yang diizinkan. Di Buddha Besar Kamakura, makanan dan minuman sama sekali tidak boleh di area kuil. Di Kiyomizu-dera dan Kastel Nijo, makan hanya di kafe atau area istirahat.
  • Bawa pulang sampah Anda. Banyak tempat hanya punya sedikit tempat sampah, atau tidak ada sama sekali.

Berkunjung ke kuil di Jepang sebagai Muslim: mengatur waktu salat

Kuil dan jinja tidak punya ruang salat sendiri, jadi sedikit perencanaan akan sangat membantu. Situs besar bisa memakan waktu berjam-jam. Todai-ji menyebut rute lengkap yang disarankan butuh sekitar empat jam, bahkan dengan langkah cepat.

  • Cek jadwal salat hari itu sebelum berangkat di halaman wilayah kami, misalnya jadwal salat Kyoto atau jadwal salat Nara.
  • Cari ruang salat terdekat di tiap wilayah, seperti ruang salat di Kyoto dan ruang salat di Nara. Beberapa berada di pusat informasi wisata dekat stasiun menuju tempat wisata.
  • Salatlah sebelum berangkat, lalu rencanakan salat berikutnya di dekat stasiun atau pusat informasi di rute Anda. Banyak wisatawan Muslim juga memilih menjamak salat saat bepergian jauh; tanyakan kepada ustaz Anda jika ragu.
  • Bawa sajadah tipis dan aplikasi kompas kiblat. Panduan kami tentang cara mencari tempat salat di Jepang menjelaskan cara meminta ruang yang tenang kepada petugas.

Makanan adalah hal kedua yang perlu direncanakan. Jajanan di kios sekitar kuil jarang punya label bahasa Inggris, jadi baca dulu panduan membaca label makanan di Jepang sebelum berangkat.

Tempat unggulan: situs bersejarah besar dan cara mengunjunginya

Tempat-tempat di bawah ini termasuk yang paling banyak dikunjungi di Jepang, dan sebagian besar termasuk Warisan Dunia UNESCO. Jam buka dan harga tiket bisa berubah, jadi cek situs resmi masing-masing sebelum berangkat.

Nikko Toshogu (Tochigi)

Nikko Toshogu adalah kompleks jinja penuh hiasan di pegunungan sebelah utara Tokyo. Tokugawa Ieyasu, shogun pertama dari keluarga Tokugawa, dipuja di sini setelah wafat pada tahun 1616. Gerbang Yomeimon-nya dihiasi lebih dari 500 ukiran berwarna cerah dan emas. Cari ukiran terkenal tiga monyet ("tidak melihat, tidak mendengar, tidak berbicara keburukan") dan ukiran kucing tidur.

Untuk mencapai makam bagian dalam (Okusha), Anda harus menaiki 207 anak tangga batu, jadi siapkan waktu dan tenaga ekstra. Kereta dari Asakusa ke Stasiun Tobu Nikko butuh sekitar 110 menit, lalu bus ke area jinja sekitar tujuh menit. Asosiasi Pariwisata Kota Nikko mencatat bahwa loket tiket jinja hanya menerima uang tunai.

Untuk salat, panduan Muslim JNTO mencantumkan ruang salat di Stasiun Tobu Nikko yang buka sepanjang tahun pukul 8.20 sampai 16.00. Tanyakan di pusat informasi wisata lantai 1. Stasiun ramai di pagi hari, jadi sebaiknya beri tahu lebih dulu.

Shirakawa-go dan Gokayama (Gifu dan Toyama)

Desa-desa pegunungan ini terkenal dengan rumah petani *gassho-zukuri* beratap jerami yang curam, dan terdaftar sebagai Warisan Dunia sejak 1995. Di sini tidak ada urusan ibadah, tetapi ada satu hal penting soal tata krama: rumah-rumah ini masih dihuni warga.

  • Jangan masuk ke rumah atau halaman pribadi, dan jangan mengintip ke dalam jendela.
  • Tidak ada tempat sampah di desa Ogimachi, jadi bawa pulang semua sampah, dan gunakan hanya toilet umum yang disediakan.
  • Musim paling ramai adalah Mei, Agustus, September, dan Oktober. Datanglah pagi kalau ingin suasana lebih lengang.

Ainokura di Gokayama, di sisi Prefektur Toyama, termasuk dalam situs Warisan Dunia yang sama, dan tata kramanya pun sama.

Kyoto: Kiyomizu-dera, Kinkaku-ji, Sanjusangen-do, dan Kastel Nijo

Kuil, jinja, dan kastel di Kyoto termasuk dalam situs Warisan Dunia "Monumen Bersejarah Kyoto Kuno". Seminggu pun tidak akan cukup, jadi pilih beberapa saja dan sisakan waktu untuk salat.

Kiyomizu-dera adalah kuil Buddha di lereng Gunung Otowa. Aula Utamanya, yang dibangun ulang pada 1633, berdiri di atas tebing curam dan terkenal dengan panggung kayunya. Di bawahnya ada Air Terjun Otowa, tempat pengunjung menampung air dari tiga pancuran sambil berdoa agar keinginannya terkabul; Anda cukup melihat saja. Kuil buka mulai pukul 6.00 dan jam tutupnya berubah sesuai musim, jadi cek situs resminya. Kuil ini punya rute bebas hambatan untuk kursi roda, dan meminta pengunjung tidak makan sambil berjalan. Jaraknya sekitar 20 menit berjalan kaki dari Stasiun Kiyomizu-Gojo.

Kinkaku-ji (Paviliun Emas) adalah kuil Zen aliran Rinzai, cabang dari Kuil Shokoku-ji. Situs resminya mencantumkan jam buka pukul 9.00 sampai 17.00.

Sanjusangen-do adalah aula sepanjang 120 meter yang berisi deretan patung Buddha di sekeliling patung Kannon yang sedang duduk. Sepatu dilepas di pintu masuk, lalu Anda cukup berjalan menyusuri aula. Pemandangannya memukau meskipun Anda tidak tahu apa-apa tentang agama Buddha.

Kastel Nijo adalah kastel dengan bangunan istana yang megah, dan merupakan situs sejarah, bukan tempat ibadah. Di dalam Istana Ninomaru-goten Anda berjalan dengan kaus kaki dan tidak boleh memotret. Kastel ini juga berguna untuk salat: panduan wisata resmi Kota Kyoto menyebut tersedia tempat untuk salat jika Anda bertanya ke kantor pengelola kastel (perlu tiket masuk). Cek halaman tersebut untuk jam buka terbaru.

Kuil Warisan Dunia lain di Kyoto yang ada di situs kami antara lain Ryoan-ji dengan taman batunya yang terkenal, Tenryu-ji di Arashiyama, dan To-ji dengan pagoda lima tingkatnya. Untuk salat Jumat, panduan kota yang sama mencantumkan Masjid Kyoto di dekat Istana Kekaisaran; lihat panduan masjid di Jepang.

Nijo-jo Castle

  • Lapor ke resepsionis terlebih dahulu

Terakhir diperiksa: 4 Nov 2026

Nara: Todai-ji dan Kasuga Taisha

Nara adalah salah satu ibu kota kuno Jepang, dan kuil serta jinja besarnya membentuk situs Warisan Dunia "Monumen Bersejarah Nara Kuno". Sebagian besar tempat wisata berada di dalam dan sekitar Taman Nara, jadi Anda bisa berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain.

Todai-ji menyimpan patung raksasa Buddha Vairocana di dalam Aula Buddha Besar. Pengunjung bisa melihat-lihat tanpa ikut beribadah. Kalau waktu Anda terbatas, fokuslah pada Aula Buddha Besar; rute lengkapnya butuh sekitar empat jam.

Kasuga Taisha adalah jinja Shinto yang terkenal dengan lenteranya. Anda bebas berjalan di area jinja; untuk masuk ke area sekitar Aula Utama dikenakan biaya. Lentera gantung di sepanjang koridor hanya dinyalakan dua kali setahun, pada 3 Februari dan 14–15 Agustus.

Nara termasuk kota yang paling mudah untuk salat. Pusat Informasi Wisata Kota Nara di depan Stasiun JR Nara punya ruang salat yang buka pukul 9.00 sampai 17.00, dan NARA Visitor Center & Inn di dekat Kolam Sarusawa juga punya ruang salat.

Horyu-ji, yang bisa dicapai dengan kereta dalam waktu singkat, termasuk kelompok pertama situs Warisan Dunia Jepang pada 1993.

Kastel Himeji (Hyogo)

Kastel Himeji juga termasuk situs Warisan Dunia pertama Jepang, pada 1993. Ini situs sejarah, bukan tempat ibadah, jadi "aturannya" hanya hal-hal praktis.

  • Sepatu luar tidak boleh dipakai di dalam bangunan, termasuk menara utama. Bawa kaus kaki tebal atau sepatu dalam ruangan yang nyaman.
  • Naik ke puncak menara utama rasanya seperti mendaki bukit kecil, dan tangga di dalamnya sangat curam dan sempit. Siapkan waktu dan tenaga ekstra.
  • Satu-satunya mesin penjual minuman ada tepat di balik gerbang masuk, jadi bawalah air minum sendiri.

Kalau Anda suka kastel, Kastel Osaka punya lift di menara utamanya, dan Kastel Matsumoto juga populer untuk dikunjungi.

Jinja Itsukushima (Miyajima, Hiroshima)

Itsukushima adalah jinja yang tampak mengapung di atas laut, dengan gerbang torii raksasa yang berdiri di air. Jinja ini menjadi Warisan Dunia pada 1996.

  • Saat air surut, Anda bisa berjalan sampai ke Torii Besar; saat pasang, kaki torii terendam. Cek tabel pasang surut untuk memilih waktu berkunjung.
  • Lantai koridor jinja punya celah kecil di antara papannya. Pakai sepatu yang nyaman; sepatu hak tinggi bisa tersangkut.

Miyajima cukup siap menyambut wisatawan Muslim. Di dekat pelabuhan, panduan Muslim JNTO mencantumkan tempat salat dengan sajadah di Yamaichi Bekkan (sekitar satu menit berjalan kaki), serta ruang serbaguna di lantai 2 TOTO Miyajima Omotenashi Restroom (sekitar enam menit berjalan kaki) yang bisa dipakai untuk salat jika Anda memberi tahu petugas. Panduan yang sama menyebut bahwa toko Yamadaya di Jalan Belanja Omotesando menjual momiji-manju dan shakushi-senbei bersertifikat halal.

Buddha Besar Kamakura (Kanagawa)

Buddha Besar di Kuil Kotoku-in bisa dikunjungi dalam perjalanan sehari dari Tokyo. Foto pribadi boleh di area kuil, tetapi merekam video di dalam patung tidak boleh. Pengunjung juga bisa melihat bagian dalam patung (buka pukul 8.00 sampai 16.30; cek situs resmi sebelum berangkat).

Makan, minum, bahkan membawa makanan atau minuman ke area kuil dilarang keras, jadi atur waktu makan sebelum atau sesudahnya. Di dekatnya Anda juga bisa mengunjungi Tsurugaoka Hachimangu, jinja utama Kamakura, dan Kuil Hase-dera.

Tokyo: Senso-ji dan Meiji Jingu

Di Tokyo, Senso-ji adalah kuil besar di kawasan Asakusa. Di depan aula utama, orang-orang mengipaskan asap dupa ke tubuh mereka; ini kebiasaan agama Buddha yang cukup Anda lihat saja. Patung utama kuil disimpan tersembunyi dan tidak pernah diperlihatkan kepada pengunjung. Kabar baiknya, Panduan Wisatawan Muslim Tokyo mencantumkan Masjid Dar Al-Arqam di Higashi-Asakusa, yang buka dari Subuh sampai Isya.

Meiji Jingu adalah jinja besar di tengah kota. Kunjungan ke jinja butuh sekitar satu jam, atau sekitar dua jam jika ditambah Taman Dalam dan museumnya.

Sekilas situs Warisan Dunia di Jepang

Badan Urusan Kebudayaan Jepang mencatat 27 situs Warisan Dunia: 22 situs budaya dan 5 situs alam. Banyak situs budaya berupa kuil, jinja, kastel, atau desa tua. Berikut yang paling sering dikunjungi wisatawan:

  • Monumen Buddha di Kawasan Horyu-ji (Nara, 1993)
  • Kastel Himeji (Hyogo, 1993)
  • Monumen Bersejarah Kyoto Kuno (Kyoto, Uji, dan Otsu, 1994)
  • Desa Bersejarah Shirakawa-go dan Gokayama (Gifu dan Toyama, 1995)
  • Monumen Perdamaian Hiroshima (Kubah Genbaku) (1996)
  • Jinja Itsukushima (Hiroshima, 1996)
  • Monumen Bersejarah Nara Kuno (1998)
  • Jinja dan Kuil Nikko (Tochigi, 1999)
  • Situs Gusuku Kerajaan Ryukyu (Okinawa, 2000)
  • Situs Suci dan Jalur Ziarah Pegunungan Kii (Wakayama, Nara, dan Mie, 2004)
  • Hiraizumi (Iwate, 2011)
  • Gunung Fuji, Tempat Suci dan Sumber Inspirasi Seni (Shizuoka dan Yamanashi, 2013)

Gunung Fuji masuk daftar sebagai situs *budaya* karena perannya yang panjang dalam agama dan seni Jepang, dan jinja seperti Fujisan Hongu Sengen Taisha berdiri di kakinya. Situs terbaru, Ibu Kota Kuno Asuka dan Fujiwara di Nara, ditambahkan pada 2026.

Daftar cek sederhana untuk hari kunjungan

  1. Cek jadwal salat dan ruang salat terdekat di wilayah tujuan.
  2. Pakai pakaian sopan dan nyaman, kaus kaki bersih, serta sepatu yang mudah dilepas.
  3. Bawa air minum dan camilan halal; banyak tempat membatasi makan, dan kios jarang mencantumkan komposisi.
  4. Bawa kantong kecil untuk sepatu dan sampah.
  5. Perhatikan papan aturan foto, dan jangan pernah memotret orang yang sedang berdoa.
  6. Lewati saja tempat penyucian dan kotak persembahan; melihat sudah cukup.
  7. Pelajari beberapa kata sopan, seperti *sumimasen* (permisi); lihat kalimat bahasa Jepang untuk wisatawan Muslim.

Pertanyaan yang sering diajukan

Bolehkah Muslim masuk ke kuil atau jinja di Jepang?

Boleh. Kuil dan jinja di Jepang terbuka untuk pengunjung dari semua agama, dan termasuk tempat yang paling banyak dikunjungi di negeri ini. Banyak Muslim berkunjung sebagai pengamat untuk menikmati arsitektur, taman, dan sejarahnya tanpa ikut beribadah. Jika Anda punya keberatan pribadi, Anda selalu bisa memilih menikmati dari halaman luar tanpa masuk ke aula.

Apakah saya harus membungkuk, bertepuk tangan, atau membasuh diri di tempat penyucian?

Tidak. Semua itu adalah ibadah bagi penganut Shinto dan Buddha, dan pengunjung tidak diharapkan melakukannya. Anda boleh melewati bak penyucian dan berdiri tenang di samping aula utama. Sikap yang tenang itulah bentuk hormat yang paling penting.

Apakah saya perlu melepas jilbab?

Tidak. Sebagian panduan menyebut melepas topi di dalam ruangan dihargai, tetapi itu tidak wajib, dan jilbab adalah busana keagamaan yang tidak perlu dilepas. Pakaian sopan seperti lengan panjang dan rok atau celana panjang justru sangat cocok untuk tempat-tempat ini.

Bisakah saya salat di kuil atau jinja?

Kuil dan jinja adalah tempat ibadah agama lain dan tidak punya ruang salat untuk Muslim. Banyak Muslim memilih salat di ruang salat terdekat, seperti di pusat informasi wisata di Nara atau ruang salat stasiun di Nikko. Kastel Nijo di Kyoto, yang merupakan situs sejarah, bisa menyediakan tempat salat jika diminta.

Bolehkah saya membeli jimat omamori sebagai oleh-oleh?

Omamori dan omikuji adalah barang keagamaan yang dijual jinja atau kuil sebagai bagian dari ibadahnya. Banyak Muslim memilih tidak membelinya. Kerajinan lokal, kue khas, kartu pos, atau buku tentang tempat itu bisa jadi oleh-oleh yang lebih nyaman.

Situs bersejarah mana yang sama sekali tidak ada kegiatan ibadahnya?

Kastel dan desa bersejarah, seperti Kastel Himeji, Kastel Osaka, Kastel Nijo, dan Shirakawa-go, adalah situs sejarah, bukan tempat ibadah. Pilihan yang pas jika Anda ingin seharian berwisata tanpa suasana ibadah di sekitar. Siapkan saja diri untuk melepas sepatu dan menaiki tangga curam di menara kastel.

Berapa lama waktu yang perlu disiapkan untuk kuil besar?

Tergantung tempatnya. Kuil bertaman seperti Kinkaku-ji bisa dikunjungi dengan singkat, sedangkan rute lengkap Todai-ji butuh sekitar empat jam. Cek jadwal salat lebih dulu, lalu atur kunjungan di antara dua waktu salat.

Rencanakan kunjungan Anda

Kuil, jinja, dan kastel di Jepang termasuk tempat terindah yang bisa Anda kunjungi, dan Anda bisa menikmatinya sepenuhnya sambil tetap menjaga keyakinan dan ibadah Anda. Mulailah dari halaman Todai-ji, Sanjusangen-do, Nikko Toshogu, Kastel Himeji, dan Jinja Itsukushima, lalu cek ruang salat di Kyoto dan panduan kami tentang cara mencari tempat salat di Jepang sebelum berangkat.